Disclaimer

Semua Tulisan yang ada dalam blog ini adaah tulisan original, Anda boleh membaca dan menyalinnya dengan satu syarat: tidak merubah konten, url sumber dan kredit titlenya.

Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya.


Google PageRank for blog posmetro batam

Akihira dan Alda

SYAHDAN, dahulu kala di Negeri Sakura, ada tradisi membuang para lansia ke dalam rimba. Mereka yang renta, tak berdaya, dipapah menuju hutan lebat untuk kemudian ditinggalkan sendiri. Hingga maut menjemput.

Hari itu giliran Akihira membawa ibunya ke belantara rimba untuk dibuang. Ibu yang teramat tua lagi tak bermaya. Pohon-pohon pinus mengirimkan angin sakal. Beberapa kali Akihira limbung membopong sang ibu.

Tapi ia terus berjalan. Tradisi dan martabat seorang lelaki Jepang mesti ditegakkan. Sepanjang perjalanan, ibunda Akihira mematahkan rantingranting kecil dengan jari-jemari sepuhnya yang terus bergeletar.

Maka tibalah mereka di jantung hutan yang sunyi. Perlahan Akihira menurunkan ibunya. “Kita sudah sampai Bu,” ia berkata. Ada gebalau jiwa yang mengarus di dadanya. Akihira mencoba untuk tidak menangis.

Adapun sang ibu, menatap anaknya dengan penuh kasih.

“Akihira, hingga detik ini pun cintaku padamu tak akan pernah berkurang, Nak. Aku menyayangi kau dengan seluruh nafasku. Tegarlah. Kau telah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Ayo, segeralah pulang. Ibu tidak ingin kamu nanti pulang tersesat. Makanya Ibu tadi mematahkan reranting pohon, sebagai penunjuk jalan.”

Mendengar itu, remuk-redam hati Akihira. Ia berlari memeluk ibunya erat-erat. Tangisnya membuncah. Tanpa pikir panjang lagi ia bawa kembali ibunya pulang ke rumah, merawatnya dengan baik sampai akhir usia.

Di Batam, Krida Tarigan tengah berjalan menuju hutan gelap yang lain. Krida adalah seorang ibu yang dipilih oleh Tuhan untuk mencecap buah pahit cobaan. Anaknya, Alda Ameralda Harahap, divonis mengidap leukimia. Krida bahkan sudah memesan kain kafan karena secara medis usia sang buah hati tinggal menunggu hitungan hari.

Seperti ibu Akihira, Krida telah mematahkan ranting-ranting kecilnya sendiri, sebagai penunjuk jalan pulang bagi anaknya, Alda. Aduhai Ibunda, izinkan kami menyenandungkan sebuah lagu lama Batak Toba, demi darah, keringat, dan airmatamu. “Di Portibion Holan Inongdo na Undenggan”. Di dunia yang fana ini, hanya Ibu seorang nan paling suci…***

Nantikan kisah pilu menggugah hati di Tabloid DIA Posmetro, Hari Ahad, edisi 20-27 februari 2011, dengan headline: Kain Kafan Dipesan Untuk Si Buah Hati [Alda dan Leukimia:Kain Kafan Sudah Dipesan]