Semua Tulisan yang ada dalam blog ini adaah tulisan original, Anda boleh membaca dan menyalinnya dengan satu syarat: tidak merubah konten, url sumber dan kredit titlenya.
Semua posting di blog ini merupakan pendapat pribadi dan tanggung jawab masing-masing penulis sepenuhnya.
- Bahasa Non Verbal Bahasa Kejujuran
- Kambing Bandot VS Singa Edan: Sebuah Cerminan
- Joni Blak-blak, Web Defacer dan Saudaraku Posmetro Medan
- Digitalpreuneur vs Entrepreuneur Konvensional
- Bisnis Tetaplah Bisnis
- Website Koran Lokal: ePaper ataukah Portal
- Bu Judith
- Mr Loong
- Tips Aman Facebook: Cara Menghindari Pembajakan Akun Facebook
- Berlian
- Marry Me
- Akihira dan Alda
- Tamasya Akal Bagian Kesekian: Rajah-Isim-Wafaq Dan Php Script
- Antara ‘Pablo’, ‘Hasan’, dan Posmetro
- Ketika Idealisme Berselingkuh
- Ilmu Padi Ilmu Hati
- Akal adalah (salahsatu) Obat Hati
- Nyi Iteung on Kontak Kami
- Nyi Iteung on Cara berlangganan
- Nyi Iteung on Cara berlangganan
- vera on Kontak Kami
- ajie99 on Cara berlangganan
Kambing Bandot VS Singa Edan: Sebuah Cerminan
Oleh: Izulthea Petarung Sejati
Kebanyakan orang menggerutu ketika muncul jeda iklan dalam suatu acara televisi, namun saya malah sangat menantikan saat iklan diputar. Mata saya sangat menikmati ketika iklan itu muncul, terutama iklan bersambung atau iklan yang disajikan dalam bentuk mini drama. Ada kepuasan bathiniah-spiritual yang saya dapatkan dari menyaksikan iklan seperti itu
Sebab saya sudah muak dengan tayangan acara yang itu-itu juga: kalo nggak acara gosip, ya tayangan kekonyolan anggota terhormat DPR, gonjang-ganjing si Udin, atau sinetron dan film yang sangat gampang ditebak alur ceritanya, atau tentang tokoh-tokoh sampah yang itu-itu juga., atau malah Pak Beliau yang ucapanya selalu saya ingat: “Saya Prihatin….”
Maka, wajarlah kalo saya malah sangat begitu antusias menyaksikan tayangan iklan daripada tayangan acara. #Oase di padang tandus…#
Salah satu iklan kesukaan saya adalah iklan produk rokok (walaupun saya harus menunggu malam untuk menyaksikan iklan yang dimaksud). Dan perlu diketahui bersama bahwa rasa suka saya ini sangat objektif dan tidak dipengaruhi oleh tekanan dan pengaruh apapun, termasuk kebiasaan saya merokok dan meminta rokok kepada kawan.
Ketika menyaksikan iklan itu, seolah saya jungkir balik berpikir (berpikirnya beneran, jungkir baliknya nggak betulan), apakah benar ada korelasi yang saling menguatkan antara pesan dalam tanyangan itu dengan pesan sponsornya. Alias, kadang iklan rokok justeru nggak nyambung dengan produk rokok yang ingin dipromosikannya. Betul- Betul- Betul?
Lalu saya menghitung, semua iklan rokok nyatanya seperti itu (dibaca: wajib seperti itu). Satu-satunya yang menunjukkan bahwa iklan itu adalah iklan rokok yaitu diakhir durasi tayangnya ada peringatan pemerintah, “Merokok membahayakan Kesehatan anda dan orang di sekitar Anda”. That`s it, No More.
Bisa dibilang Iklan rokok beragam macam, tapi punya kecenderungan yang sama. Ada iklan yang berkisah tentang petualangan tiga anak muda, kesuksesan pengusaha muda, atau pemuda yang selalu menjadi solusi bagi orang lain dan bikin bangga, pemuda yang gigih pemanjat tebing, atau geng anak muda yang punya yel-yel“nggak ada loe nggak rame”, atau yang lebih ekstrim yaitu Kambing bandot VS Singa Edan, etc-etc. Yang jelas, bagi saya semua iklan rokok [nyaris] nggak nyambung [tapi menghibur].
Tapi, ngemeng-ngemeng, saya punya kesimpulan sementara yang bunyinya begini: “semakin nggak nyambung cerita dalam iklan itu, semakin bagus kualitas iklannya”. Setidaknya itu menurut saya, lain lagi mungkin menurut Anda.
Ambil contoh yang paling gampang, iklan rokok yang dibintangi oleh komunitas kambing bandot. Dalam tayangan itu, ada satu kambing yang mempengaruhi komunitas kambing untuk hijrah ke ladang tetangga, yang menurut kabar yang beredar di kalangan para kambing, ladang itu lebih hijau dan menggairahkan untuk dikunyah. Maka, berangkatlah beberapa kambing ke ladang tetangga melalui jalur illegal alias lompat pagar. Sedangkan, yang tersisa hanyalah seekor kambing yang istiqomah dengan pendiriannya (yang kemudian menjadi The Last One).
Begitu sampai di tanah tujuan yang dijanjikan, ternyata mereka tertipu lahir bathin. Rumput hijau merona yang mereka bayangkan ternyata bukanlah rumput, tapi tiruan rumput alias rumput tiruan. Boro-boro mau muntah, dikunyah pun nggak bisa. Sirnalah semua harapan saat itu juga. Dan yang lebih menyakitkan, ternyata itu ladang dengan rumput tiruan itu adalah kandang singa edan sang jagal sejati!
So pasti Anda tahu kelakuan singa, nggak peduli si kambing itu datang dengan wajah lugu dan memelas serta berasal dari bangsa miskin yang lebih rendah dari singa. Sekali tatap muka dengan singa, maka Standard Procedure Operation yang berlaku adaah: terkam, hantam, bantai sekalian [rumus bakunya TTBs]. Toh, itu teretorial si singa edan. Dan tak ada pengadilan yang jujur, adil dan terbuka di situ. Sebab, kekejian singa di kandang singa, tidak dianggap sebagai kejahatan yang serius dan tak perlu mahkamah luarbiasa. Dan begitu angin berlalu, maka berlalulah cerita nyata tentang kekejian itu.
Sampai cerita kambing bandot tadi, apa yang Anda simpulkan?
Jelas anda harus merasa tabu untuk memahami dan menyimpulkan iklan ini secara telanjang dan analisa ala kadarnya. Jangan mentang-mentang ini iklan rokok dengan bintang Kambing Bandot dan Singa, lalu anda berkomentar seperti ini, “Mana ada kambing yang merokok”. Jangan-jangan dan jangan.
Lalu bagaimana cerita dalam dunia nyata manusia?
Di saat layar tv dan PC kita dihiasi berita yang mengiris-ngiris rasa kemanusiaan tentang nasib TKI yang di pancung di Arab Saudi sana, ada kemarahan dalam hati kecil ini. Perasaan seperti diaduk-aduk lalu diciprat-cipratin: ya kasian iya, ya jengkel sama pemerintah iya, benci sama wan abud ya iya, ya kesel sama media yang selalu menayangkan berita yang itu-itu juga—sekali lagi—ya iya.
Serba jengkel serba jengah serba keparat, begitu kira-kira.
Maka, menurut saya, harus ada pem’bahasa’an lanjutan, agar pesan moral yang disampaikan kepada kita tetap utuh, dengan meniadakan reaksi radikal-spontan antara kejadian nyata dan emosi kita.
Melalui pesan dalam iklan itu, kita seolah diajari tanpa merasai digurui, sesuai dengan pepatah yang selalu kita lupakan: “Masih Lebih baik Hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang lain.”
Tapi yah sudahlah, apalah saya ini, sekeras kerasnya saya berteriak, tetap saja Pak Beliau yang menentukan. Dengan satgasnya, dengan dubesnya, dengan aparatnya, dengan ulamanya, dengan lembaga TKI-nya (saya pantang menyebut namanya, tolong anda carikan di gugel nama lembaga ini).
Di akhir tulisan, Ada satu hal yang ingin saya usulkan. Tapi ini hanyalah usul, boleh ditanggepin boleh dicuekin-terserah. Saya usul, bagaimana kalo pepatah “Masih Lebih baik Hujan batu di negeri sendiri dari pada hujan emas di negeri orang lain” ini dipajang besar-besar di terminal kedatangan TKI di bandara Soetta sana, juga di penampungan PJTKI yang tersebar di mana-mana. Juga dicetak di passport, di tiket pesawat, sekalian kalo perlu dicetak di kemasan nasi kotaknya para Calon TKI itu.
Dengan cara yang mirip anjuran pemerintah pada kemasan rokok, diharapkan ada kesadaran berjenjang di kalangan masyarakat kita. Malah kalo perlu, tambahkan juga gambar ilustrasi TKI yang dipancung pada baliho yang dipasang itu. Alih-alih mirip kemasan rokok produksi luar negeri yang menampilkan gambar mengerikan akibat merokok pada kemasan rokoknya.
Sekian dan terimakasih
# Saya Puas.
Merokok bisa mengakibatkan kanker, penyakit jantung, mengganggu kehamilan dan janin, menyebabkan rusak mata pencaharian, bisa mengurangi jatah dapur dan jajan anak, bau mulut, gigi menghitam, kantong kering, pencurian dsb…
Contact Us | Terms of Use
Copyright © 2011 . All Rights Reserved.